Senin, 01 Agustus 2011
Ku menatap dalam tidur DALAF
Ku menatap seluruhnya. Tangannya. Wajahnya. Bibirnya. Matanya. Hidungnya. Kakinya. Dia kelihatab begitu tenang dalam tidurnya. Aku mengusap beberapa kali kepalanya. Aku ingin sekali hadir dalam ketenangnnya. Hadir mengekalkan kedamaian yang menyelimuti setiap senyumnya.
Ingin ku gariskan tangan ini pada wajahnya. Tapi kembali aku teringat hari ini puasa. Ku tak ingin pahala puasanya rusak karena aku.
Sayang.. Tak bisa ku lukiskan keindahan yang kulihat hari ini dari dirimu. Keindahan yang menyelimuti seluruh kehadiran desah nafasmu. Kehadiran dalam setiap tarikan nafasmu yang begitu indah. Ku tak menyangka.
Ya Allah semoga kelak. Wajah dan seluruh Dalaf yang ku tatap dalam tidunya hari ini menjadi miliknya.
Aku mencintanya karena-Mu. Aku akn berusaha di bulan suci ini menjaga rasa yang membuncah di dadaku ini. Agar hamba mendapat Ridho-Mu dalam hubungan kami. Hamba berdoa... semoga Engkau memilih Dalaf sebagai Suamiku kelak, Dan memilihku sebagai istri Dalaf. Kabulkanlah doaku Ya Allah.
Ingin ku gariskan tangan ini pada wajahnya. Tapi kembali aku teringat hari ini puasa. Ku tak ingin pahala puasanya rusak karena aku.
Sayang.. Tak bisa ku lukiskan keindahan yang kulihat hari ini dari dirimu. Keindahan yang menyelimuti seluruh kehadiran desah nafasmu. Kehadiran dalam setiap tarikan nafasmu yang begitu indah. Ku tak menyangka.
Ya Allah semoga kelak. Wajah dan seluruh Dalaf yang ku tatap dalam tidunya hari ini menjadi miliknya.
Aku mencintanya karena-Mu. Aku akn berusaha di bulan suci ini menjaga rasa yang membuncah di dadaku ini. Agar hamba mendapat Ridho-Mu dalam hubungan kami. Hamba berdoa... semoga Engkau memilih Dalaf sebagai Suamiku kelak, Dan memilihku sebagai istri Dalaf. Kabulkanlah doaku Ya Allah.
Ingin KuPELUK hadirmu
Terima kasih ya Allah Ya Rahman Ya Rahim.
Syukurku pada Engkau Ya Razak, telah menghadirkan penyembuh untuk luka bathin yang kurasa saat ini. Engkau telah menghadirkan Dalaf dalam kehidupanqu.
Saat ini, aku menghadapi tekanan mental yang begitu dalam. Tekan yang begitu menghujam. Saat aku tak bisa berbuat banyak untuk seorang kakak yang amat aku sayangi. seorang kak yang selama ini bisa membuat aku tersenyum. Aku tak bisa berbuat apa-apa saat kami dihina oleh mahasiswa kami.
Bagiku hal itu biasa, karena kehidupanku keras. Hatiku terbuat dari baja. Kata-kata seperti itu tak begitu pengaruh tarhadapku.
Tapi tidak buat kak Ema. Hatinya kukenal seperti gunung Es, keras tapi mudah mencair. Perkataan mahasiswa yang tak mau aku tulis diblog ini, membuat luka di hati kak Ema. Hingga berdarah sudah hatinya.
Aku bisa menghapuskan air matanya dengan nasehatku. Tapi aku tau, aku tak bisa menguncangkan pendiriannya yang begitu keras.
Kucoba menasehatinya untuk tidak menghukun Dwi Viora yang bersalah itu. Biarlah Allah saja yang berhak terhadap ciptaanya. Tapi tetap saja tak bisa.
Aku menyadari kak Ema, bukanlah wanita yang bisa dipermainkan seenaknya. Hatinya yang suci itu, harus tetap selalu ku jaga. Aku jadi ingat kata-kata Dalaf untuk selalu peduli dengan orang sekitarku termasuk pada kak Ema. Karena jika dia terluka, maka akan lama.
Aku yang selama ini terkenal tidak menjaga perasaan orang lain sadar akan kekuranganku yang membuat aku meneteskan air mata penyesalan. Meskipun tidak di depan kak Ema.
Ya Allah hamba bersyukur.. hari ini tidak emosi dengan kerenah dosen-dosen yang ingin menggagalkan ujian ke4 mahasiswa yang satu angkatan denganku itu. 4 masalah besar yang ku hadapi hari ini bisa terlewatkan dengan sebuah senyuman meskipun aku tak bisa membagi luka dengan kak Ema. Seperti biasa aku sendiri. Dalam kedukaan hatiku. Selalu tampil dengan senyum adalah kekhasanku menyembunyikan sebuah penderitaan yang membenak dalam hatiku.
Ku tak mau itu terjadi
Tak terpikir olehku dia berucap seperti itu. HUFT... kesal sebenarnya hatiku. Bagaimana tidak. Orang yang paling aku sayang mengucapkan kata-kata pernikahanku dengan lelaki lain.
Membayangkanya saja aku tak sanggup. Apalagi menjalaninya. Sungguh dalam waktu sekejap aku dan dia menjalani hidup yang terindah. Suka dan duka terlerai dalam setiap perjumpaan kami.
Bagaimana aku bisa menikah dengan lelaki lain, ketika kecupan hangat itu membekas dalam Otakku. Bagaimana bisa aku menikmati kebersamaan dengan lelaki lain.
Ya Allah...
Di hari yang suci ini, aku bermhon kepada-MU jauhkanlah ucapannya dari kebenaran. Aku ingin menikah dengannya. Bukan dengan lelaki lain. Pada-MU ku berharap.
Tak ada yang lebih kubutuhkan selainnya dirinya saat ini. Kehadirannya yang membuat aku selalu tersenyum meskipun kami dihujani banyak masalah.
Membayangkanya saja aku tak sanggup. Apalagi menjalaninya. Sungguh dalam waktu sekejap aku dan dia menjalani hidup yang terindah. Suka dan duka terlerai dalam setiap perjumpaan kami.
Bagaimana aku bisa menikah dengan lelaki lain, ketika kecupan hangat itu membekas dalam Otakku. Bagaimana bisa aku menikmati kebersamaan dengan lelaki lain.
Ya Allah...
Di hari yang suci ini, aku bermhon kepada-MU jauhkanlah ucapannya dari kebenaran. Aku ingin menikah dengannya. Bukan dengan lelaki lain. Pada-MU ku berharap.
Tak ada yang lebih kubutuhkan selainnya dirinya saat ini. Kehadirannya yang membuat aku selalu tersenyum meskipun kami dihujani banyak masalah.
Dosen Statistik di Prodiku..
Ku ingin bercerita seorang dosen yang menarik perhatianku. Hmmm... konon katanya dia jago dalam statistik. Hingga dia dipilih untuk mengajarkan ilmu hitung-hitungan itu diprodiku.
Aku menulis ini, untuk membuat dia tersenyum. Senyumnya yang hari ini MAHAL.
Ku bersama dia hari ini. menyaksikan keluarnya nilai statistik. Lama kami menunggu. Aku berharap dia mendapat A. Tapi Allah lebih sayang dengan dia. Allah memberikannya nilai B+. Intinya dia harus memperdalamkan pengetahuanya dalam ilmu itu. Bila perlu sampai S3.
Dianya sih sedih. Pastilah. lelaki yang ku kenal kental dengan perasaannya ini, pasti akan sedih. Andai saja hari ini tidk puasa. Sudah tentu ku cium dia. Aku tak mau dia terluka.
Ku ingin dia selalu menatap masa depan yang lebih baik. Dengan terus berusaha dan berdoa untuknya meskipun tidak dalam hamparan sajadahku.
Dalaf... Nilai B+ tidak mengurangi kecerdasanmu di otak, mata dan hatiku.
Sebuah Pernyataan Dalaf
Memasuki bulan suci Ramadhan, tepatnya tanggal 31 Juli 2011. Dalaf melisankan sebuah penyataan yang membuat hatiku mengigil karenanya. Jujur aku tak tahu lagi sampai dimana aku berpijak saat ngiangan suara itu.
"Kanda sudah pernah menikah sayangku."
"Apa?" Pertanyaan yang sengaja kulempar untuk mentidakkan apa yang baru saja aku dengar.
"Ia. Kanda Penah menikah."
"Kandaaaaa... Dinda percaya sama semua kata-kata kanda. Tolong jangan katakan sesuatu yang kebenaranya belum terjamin."
"Ia kanda sudah pernah menikah. Panjang ceritanya. Kenapa dinda tak mau?"
Entah kenapa dia mengalihkan pembicaraannya dengan objek yang di hadapanya yaitu laptop. Aku masih saja terkesima dalam keadaan bingung. Aku dalam keadaan yang tak jelas.
Sampailah sepupuku hadir di kediamanku. Kami shalat berjamaah. Lalu kami ke pusara ibu. Di tempat ini aku mengenal Ayah dan ketiga-tiga adik Dalaf. Dalam keadaan mental yang tak begitu siap, aku dikejutkan dengan kehadiran keluarga yang selama ini bermain di otakku. Aku mengenal Ayah yang hitam manis, ramah dan mudah tersenyum. Ningsih yang tak begitu suka denganku, terlihat dari ketidakhadiran senyum dari bibirnya atau huluran tangannya. Diakhir perjumpaan aku menyapa seraya berucap maaf sambil mengulurkan jemari-jemariku yang disambut dengan ujung jari lentik itu. Aku juga mengenal Aidil atauIdil aku juga tak begitu jelas, wanita bertubuh tinggi, sedikit kurus, cantik dengan penampilan kaca matanya, mengulurkan tangan sambil mengucap maaf ketika mencium tanganku. Annisa juga terlahat manis saat kedua tang itu mencoba memegang tubuhku saat mendekat, senyum khasnya yang masih melekat di kepalaku membuat aku selalu rindu padanya, apalagi suaranya yang manja ketika memanggil "ABAAAng.."
Pertemuan nitu melupakan aku pada pernyataan Dalaf tentang pernikahan siri yang dia ceritakan. Sepanjang perjalanan menuju SKA unbtuk membeli roti kesukaanku "Roti lelaki alias ROTIBOY yang Dalaf boyong sebanyak sepuluh buah.
Aku keasyikan dan terlupa. Tapi malamku tidak mendapatkan tidur yang nyenyak. Sebentar-bentar terbangun. Bukan karena lapar yang biasanya membangunkan aku, tapi karena terlupa akan satu hal yang amat penting. Tapi aku benar-benar lupa.
Keesokannya Dalaf datang ke rumahku, sambil mengerjakan kembali bahan sertifikasi dosen yang belum selesai.
Aku begitu saja teringat dengan PERNYATAANnya semalam. Ku menanyakan kebenarannya.
"Benarkah kanda sudah menikah?"
"Ia. Kenapa dinda nanya itu?"
"Dinda mau tahu kebenarannya."
"Ia kanda dah menikah. Tapi kanda punya alasan."
Kami terdiam untuk beberapa saat yang aku sendiri tak menghitungnya. Ntahlah apa yang ada dalam benakku. Aku begitu saja percaya dengannya. Dengan ucapannya barusan.
Aku resah tiba-tiba. Aku pergi meninggalkannya sendiri di tempatnya.
"Dinda percaya?"
"Percaya."
"kenapa?"
"Setiap bait kata kanda terekam di otak dinda. Jangan bicarakan sesuatu yang tidak benar."
Aku kembali menghampirinya. Dengan sedikit mengambil kembali senyum yang biasanya menghiasi bibirku. Tiba-tiba dia bicara.
"Dinda jangan berubah."
Entah kenapa aku pergi saja meninggalkannya. Aku ke kamar. Lalu ke kamar mandi seraya berucap
"10 kalipun kanda menikah, Dinda gak peduli. 100 kalipun Dinda tak peduli."
"Dinda percaya?"
"Dinda membangun hubungan ini atas dasar PERCAYA.
bERSAMBUNG...
"Kanda sudah pernah menikah sayangku."
"Apa?" Pertanyaan yang sengaja kulempar untuk mentidakkan apa yang baru saja aku dengar.
"Ia. Kanda Penah menikah."
"Kandaaaaa... Dinda percaya sama semua kata-kata kanda. Tolong jangan katakan sesuatu yang kebenaranya belum terjamin."
"Ia kanda sudah pernah menikah. Panjang ceritanya. Kenapa dinda tak mau?"
Entah kenapa dia mengalihkan pembicaraannya dengan objek yang di hadapanya yaitu laptop. Aku masih saja terkesima dalam keadaan bingung. Aku dalam keadaan yang tak jelas.
Sampailah sepupuku hadir di kediamanku. Kami shalat berjamaah. Lalu kami ke pusara ibu. Di tempat ini aku mengenal Ayah dan ketiga-tiga adik Dalaf. Dalam keadaan mental yang tak begitu siap, aku dikejutkan dengan kehadiran keluarga yang selama ini bermain di otakku. Aku mengenal Ayah yang hitam manis, ramah dan mudah tersenyum. Ningsih yang tak begitu suka denganku, terlihat dari ketidakhadiran senyum dari bibirnya atau huluran tangannya. Diakhir perjumpaan aku menyapa seraya berucap maaf sambil mengulurkan jemari-jemariku yang disambut dengan ujung jari lentik itu. Aku juga mengenal Aidil atauIdil aku juga tak begitu jelas, wanita bertubuh tinggi, sedikit kurus, cantik dengan penampilan kaca matanya, mengulurkan tangan sambil mengucap maaf ketika mencium tanganku. Annisa juga terlahat manis saat kedua tang itu mencoba memegang tubuhku saat mendekat, senyum khasnya yang masih melekat di kepalaku membuat aku selalu rindu padanya, apalagi suaranya yang manja ketika memanggil "ABAAAng.."
Pertemuan nitu melupakan aku pada pernyataan Dalaf tentang pernikahan siri yang dia ceritakan. Sepanjang perjalanan menuju SKA unbtuk membeli roti kesukaanku "Roti lelaki alias ROTIBOY yang Dalaf boyong sebanyak sepuluh buah.
Aku keasyikan dan terlupa. Tapi malamku tidak mendapatkan tidur yang nyenyak. Sebentar-bentar terbangun. Bukan karena lapar yang biasanya membangunkan aku, tapi karena terlupa akan satu hal yang amat penting. Tapi aku benar-benar lupa.
Keesokannya Dalaf datang ke rumahku, sambil mengerjakan kembali bahan sertifikasi dosen yang belum selesai.
Aku begitu saja teringat dengan PERNYATAANnya semalam. Ku menanyakan kebenarannya.
"Benarkah kanda sudah menikah?"
"Ia. Kenapa dinda nanya itu?"
"Dinda mau tahu kebenarannya."
"Ia kanda dah menikah. Tapi kanda punya alasan."
Kami terdiam untuk beberapa saat yang aku sendiri tak menghitungnya. Ntahlah apa yang ada dalam benakku. Aku begitu saja percaya dengannya. Dengan ucapannya barusan.
Aku resah tiba-tiba. Aku pergi meninggalkannya sendiri di tempatnya.
"Dinda percaya?"
"Percaya."
"kenapa?"
"Setiap bait kata kanda terekam di otak dinda. Jangan bicarakan sesuatu yang tidak benar."
Aku kembali menghampirinya. Dengan sedikit mengambil kembali senyum yang biasanya menghiasi bibirku. Tiba-tiba dia bicara.
"Dinda jangan berubah."
Entah kenapa aku pergi saja meninggalkannya. Aku ke kamar. Lalu ke kamar mandi seraya berucap
"10 kalipun kanda menikah, Dinda gak peduli. 100 kalipun Dinda tak peduli."
"Dinda percaya?"
"Dinda membangun hubungan ini atas dasar PERCAYA.
bERSAMBUNG...
Langganan:
Postingan (Atom)

